Mempertegas Semangat Kebangsaan

Mempertegas Semangat Kebangsaan (Menyambut Hari Lahir NU Ke-96)
Oleh :
Drs. H. Sya'ban Nuroni, MA
Ketua PCNU Gunungkidul

الخطبة الأولى

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ. وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَإِخْوَانِهِ مِنَ الْأَنْبِيَآءِ وَاْلمُرْسَلِيْنَ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهّ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَدْ قَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumat Rahimakumulluh,

Dalam kesempatan yang mulia ini marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan. Shalawat dan salam mudah-mudahan tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Jamaah Jumat Rahimakumulluh,

Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan pada 31 Januari 1926 M atau 16 Rajab 1345 H memasuki usia 96 tahun (Miladiyah) atau memasuki usia 98 tahun (hijriyah). Di sepanjang usianya menjelang satu abad, semangat beragamanya, konsisten menjaga, mempertahankan dan memperjuangkan tiga motif yang melatar belakangi berdirinya NU yaitu motif dakwah islamiyah (agama), motif menyebarkan paham Ahlissunnah wal Jama’ah, dan motif nasionalisme atau kebangsaan.  Sebagai konsekuensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang juga sebagai negara paling majemuk di dunia, komitmen kebangsaan NU dalam perjuangan kemerdekaan, mempertahankannya, dan menjaga keutuhan NKRI secara konsisten dipegang erat dan diperjuangkan hingga kini. Bagi NU, NKRI dan Pancasila adalah harga mati. Mencinta tanah air bagi NU adalah keyakinan yang mendalam sebagai kontribusi ikhtiar mempertahankan eksistensi bangsa dan Negara Indonesia, sebagaimana yang digelorakan KH Hasyim Asyari. Hal itu berdasarkan firman Allah SWT dala Surat Al Qashash ayat 85 :

اِنَّ الَّذِيْ فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لَرَاۤدُّكَ اِلٰى مَعَادٍ ۗ

Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” 

Menurut Imam Fakhr Al-Din Al-Razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaib, mengatakan bahwa kalimat  مَعَادٍ maksudnya adalah kota Makkah yang merupakan tanah air Rasulullah. Syekh Ismail Haqqi Al-Hanafi Al-Khalwathi dalam tafsirnya Ruhul Bayan mengatakan:  

وَفِيْ تَفْسِيْرِ الْآيَةِ إِشَارَةٌ اِلَى اَنَّ حُبَّ الْوَطَنِ مِنَ الْإِيْمَانِ، وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ كَثِيْرًا : اَلْوَطَنَ اَلْوَطَنَ فَحَقَّقَ اللهُ سُبْحَانَهُ سَؤْلَهُ ….. قَالَ عُمَرُ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ لَوْلاَ حُبَّ الْوَطَنِ لَحَرُبَ بَلَدُ السُّوْءِ فَبِحُبِّ الْأَوْطَانِ عُمِّرَتْ اَلْبُلْدَانُ

“Di dalam tafsirnya ayat (QS. Al-Qashash:85) terdapat suatu petunjuk atau isyarat bahwa “cinta tanah air sebagian dari iman”. Rasulullah SAW (dalam perjalanan hijrahnya menuju Madinah) banyak sekali menyebut kata; “tanah air, tanah air”, kemudian Allah SWT mewujudkan permohonannya (dengan kembali ke Makkah)….. Sahabat Umar RA berkata; “Jika bukan karena cinta tanah air, niscaya akan rusak negeri yang jelek (gersang), maka sebab cinta tanah airlah, dibangunlah negeri-negeri”.

 Jamaah Jumat rahimakumulluh,

Sebagai refleksi Harlah ke-96 NU di tahun ini mari kita pertegas kembali 3 komitmen kebangsaan NU yaitu komitmen perjuangan kemerdekaan, komitmen mempertahankan kemerdekaan dan komitmen dan menjaga keutuhan NKRI.

1. Komitmen Kebangsaan NU dalam Perjuangan Kemerdekaan

Komitmen NU dalam memperjuangkan kemerdekaan terrekam jelas pada jejak KH Hasyim Asyari dalam meperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hadrotusyaikh KH Hasyim Asyari ikut mendukung upaya kemerdekaan dengan menggerakkan rakyat melalui fatwa jihad yang kemudian dikenal sebagai resolusi jihad melawan penjajah Belanda pada 22 Oktober 1945. Butir ke empat dank ke lima Resolusi Jihad menyebutkan bahwa umat Islam terutama warga NU harus mengangkat senjata melawan penjajah Belanda dan sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali. Kewajiban ini merupakan perang suci atau jihad dan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang tinggal dalam radius 94 kilo meter, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius tersebut harus membantu dalam bentuk material terhadap mereka yang berjuang. Akibat fatwa itu, meledaklah perang di Surabaya pada 10 November 1945. 

Selain itu, secara global KH Hasyim Asy’ari juga senantiasa berkomunikasi dengan tokoh-tokoh muslim dari berbagai penjuru dunia untuk melawan penjajahan, misalnya dengan Pangeran Abdul Karim al-Khatthabi (Maroko), Sultan Pasha Al-Athrasi (Suriah), Muhammad Amin al-Husaini (Palestina), Dhiyauddin al-Syairazi, Muhammad Ali, dan Syaukat Ali (India), serta Muhammad Ali Jinnah (Pakistan).

2. Komitmen Kebangsaan NU dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Kita patut bersyukur, bangsa Indonesia dianugerahi kemerdekaan oleh Allah SWT dengan melalui perjuangan sampai titik darah penghabisan. Selain itu patut kita syukuri anugerah bonus demografi yang dianugerahkan Allah kepada kita yaitu,  1) Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar ke-4 di dunia yaitu 268.583.016 jiwa bahkan menjadi Muslim terbesar di dunia yaitu 207.2 juta jiwa atau 87.2 % 2) Indonesia memiliki  keanekaragaman suku: 1.340, etnik : 300, bahasa : 742, pulau 17.504 dan memilik keragaman hayati yang terkaya dan berlimpah (zamrud khatulistiwa)  Namun demikian, tantangannya sejak kemerdekaan hingga kini sangat berat, utamanya adalah menjaga kedaulatan  negara, mempertahankan Pancasila sebagai falsafah negara, menjaga persatuan dan kesatuan, menjaga moral bangsa, dan menghilangkan kebodohan dan kemiskinan. 

Komitmen mengawal dan menjaga Pancasila, NU konsisten gigih membela Pancasila sejak kemerdekaan hingga kini. Melalui Munas Alim Ulama di Situbondo tahun 1983, NU menyepakati Pancasila sebagai dasar negara sedangkan Islam tetap dijaga sebagai aqīdah. Antara aqīdah beragama dan dasar bernegara tidak dibenturkan, sebab Pancasila yang memuat sila ketuhanan, merupakan bentuk pengamalan syariat Islam. Dan di tengah pengaruh ideologi transnasional yang mereduksi nilai-nila keberagaman, NU tampil di garda depan menangkal kelompok intoleran dan radikal yang menyerukan khilafah Islamiyah dan anti-Pancasila.

3. Komitmen kebangsaan NU dalam menjaga keutuhan NKRI

Sejak berdirinya hingga kini NU konsistensi menjaga persatuan dan keutuhan NKRI. Filsafat yang dibangun NU sangat menghargai hak dan menjunjung tinggi derajat martabat masyarakat Indonesia, dan ia mampu mengkombinasikan antara kesalehan ajaran Islam dan kebebasan hak individu. Dengan demikian segala bentuk sektarianisme, eksklusifisme, dan primordialisme harus dihilangkan.  

Bagi NU prinsip menjalankan ketatanegaraan dalam berbangsa, bernegara dan beragama merupakan wujud mengimplementasikan nilai-nilai universal Islam.  NU dengan paham Ahlissunnah an-nahdliyyah yang mengusung sikap tawassuth (pola pikir moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (harmoni) mampu memposisikan dirinya sebagai perekat bangsa sejak kemerdekaan hingga sekarang bahkan dengan konsep Islam Nusantaranya, NU dijadikan rujukan dunia internasional dalam rangka menebarkan Islam rahmatan lil alamin. 

Jamaah Jumat rahimakumulluh,

Demikianlah khutbah ini. Mudah-mudahan khutbah ini dapat kita hikmati bersama dan semoga kita tercatat sebagai insan yang senantiasa dibimbing oleh Allah untuk memiliki ghirah membangun bangsa dan Negara. Amin ya Rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اللآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

الخطبة الثانية

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلهَ اِلَّا الله اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَاَشْهَدُ اَنَّ محمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الـخَلَائِقِ وَالْبَشَرْ. اَللَّهُمَّ  صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الْمُخْتَارِ وَآلِهِ الْأَطْهَارِ وَاَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللهِ: أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَّلَكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَه يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِىِّ، يَآأيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْن. وَاْرضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ  أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَارَبَّ اْلعَالَمِيْنَ .رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Pin It on Pinterest